Day: February 17, 2020

Pelaku Bully di Malang Tak akan Dikeluarkan? Sekolah Akan Bantu Korban Jika Ingin Pindah

Pelaku Bully di Malang Tak akan Dikeluarkan? Sekolah Akan Bantu Korban Jika Ingin Pindah

Menindaklanjuti kasus kekerasan pada anak di sekolah Kota Malang yang terjadi pada Rabu, 15 Januari 2020. Pemerintah Kota Malang akhirnya angkat suara mengenai nasib para pelaku dan korban bullying yang masing duduk di bangku sekolah menengah pertama tersebut.

Menurut Pemerintah Kota Malang, baik pelaku maupun korban tetap dijamin mengenai hak pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 16 Kota Malang.

Artinya pihak sekolah menjamin tak akan memberhentikan baik pelaku dan korban yang masih berstatus sebagai siswa disana.

Pernyataan tersebut secara langsung disampaikan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti saat melakukan pengawasan langsung ke Kota Malang mengenai kasus tersebut.

“Dinas Pendidikan dan sekolah menjamin tidak akan dikeluarkan satu pun,” ujar Retno di Balai Kota Malang, Kamis (13/2/2020).


Meskipun pihak Pemerintah Kota Malang telah memastikan tidak akan mengeluarkan siswa yang terlibat dalam kasus kekerasan tersebut,tetap saja siswa diberi kebebasan memilih.

Tak hanya itu, Pemerintah Kota Malang akan mencarikan sekolah pengganti jika siswa merasa tidak nyaman melanjutkan pendidikan di SMPN 16 Malang.

“Tadi Dinas Pendidikan menyatakan kalau ananda korban dan pelaku ingin pindah sekolah pun, mereka terbuka untuk mencarikan sekolah pengganti. Dan, menjamin hak pendidikan korban terpenuhi dan menjamin hak rehabilitasi terpenuhi,” jelasnya.

Pelaku Bully di Malang Tak akan Dikeluarkan? Sekolah Akan Bantu Korban Jika Ingin Pindah

Kasus Kekerasan Anak Hingga Berujung Amputasi

Sejak pertama kali berita kekerasan tersebut terangkat, hingga kini kasus tersebut masih berbuntut panjang.

Saat ini, terdapat tiga siswa yang dinilai terlibat langsung dalam kasus perundungan itu. Satu korban atas nama MS (13), siswa kelas 7, dan dua pelaku berinisial WS, siswa kelas 8, dan RK, siswa kelas 7, di SMPN 16 Kota Malang.

Salah satu dampak dari kejadian tersebut adalah pencopotan kepala dan wakil kepala SMPN 16 Kota Malang oleh Pemerintah Kota Malang .

Sehingga kini  sekolah masih dalam penanganan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang secara langsung.