Fakta Tentang Pendakian Nobukazu Kuriki, Pendaki Jepang Yang Tewas Di Everest

Mendaki gunung seperti candu. Ketika seorang pendaki berhasil menaklukkan satu puncak gunung, ia akan menjadi bersemangat untuk menaklukkan puncak gunung lainnya. Termasuk ketika mendaki pegunungan Himalaya. Puncak Everest yang menjadi puncak tertinggi membuat semua pendaki mengidamkan menaklukkan atap dunia itu. Seperti Nobuzaku Kuriki, pendaki pendaki Jepang yang tewas di everest baru-baru ini.

Nobukazu Kuriki, Pendaki Jepang yang Tewas di Everest

  • Merupakan pendakian Everest yang ke depalan

Nobuzaku Kuriki, pendaki pendaki Jepang yang tewas

Pendakian terakhirnya itu merupakan pendakian kedelapannya ke Everest. Pria yang berusia 35 tahun itu sebelumnya telah menaklukkan berbagai puncak di pegunungan Himalaya, seperti puncak Mount Broad Peak, Cho Oyu, Dhaulagiri dan Manaslu. Semua pendakian itu berhasil ia lakukan tanpa oksigen.

Walaupun begitu, ia belum berhasil menaklukkan puncah Everest yang memiliki tinggi 8.850 meter. Sebelumnya berbagai ketidakberuntungan membuatnya gagal menuju Everest dan di pendakiannya yang ke delapan ia pun harus takluk untuk selama-lamanya.

  • Komunikasi radio terputus

Nobuzaku Kuriki, pendaki pendaki Jepang yang tewas

Sebelum musibah itu terjadi, ia kehilangan komunikasi radio dengan timnya di Everest. Hal ini membuat timnya susah untuk mencarinya, bahkan lampu di kepalanya pun juga tidak terlihat di dalam kegelapan.  Tim yang berada dekat dengan posisi terakhirnya pun mencoba mendaki ke atas mengikuti jalur yang dilaluinya. Di saat itulah mereka menemukan pria asal Jepang itu dalam keadaan tidak bernyawa.

Jenazahnya ditemukan pada ketinggian 7.400 meter dan kemungkinan besar ia meninggal karena hypothermia. Hypothermia adalah kondisi di mana tubuh kehilangan panas tubuh secara cepat yang bisa membuat suhu badan sangat rendah dan berujung pada kematian.

  • Pernah kehilangan Sembilan jari

Nobuzaku Kuriki, pendaki pendaki Jepang yang tewas

Kuriki bukanlah pendaki pemula, ia sudah pernah menaklukkan berbagai puncak Himalaya dan telah melakukan delapan kali percobaan menaklukkan puncak Everest. Pada tahun 2012, ia pernah kehilangan sembilan jarinya yang membeku saat mencoba menaklukkan Everest. Jadi sangat disayangkan kalau petualangannya harus berakhir dengan hypothermia.

  • Ia mengalami berbagai halangan dalam usahanya ke puncak Everest

Nobuzaku Kuriki, pendaki pendaki Jepang yang tewas

Walaupun sudah begitu berpengalaman, Kuriki ternyata bernasib buruk ketika mencoba ke Everest. Berbagai kegagalan pernah ia alami seperti pada tahun 2009 ketika pihak berwenang dari China menghentikan pendakiannya sebelum ia berhasil sampai ke puncak Everest.

Pada tahun 2010, ia dan krunya mengalami kemalangan. Cuaca buruk menyebabkan kecelakaan fatal dan membuat ia dan timnya harus turun lebih cepat. Nasib buruk seperti melekat padanya pada tahun 2011. Pada saat itu, gagak Himalaya menggagalkan rencananya ke puncak Everest. Tiang-tiang tenda, persediaan gas, makanan dirusak dan dicuri oleh binatang tersebut di kamp terakhir.

Pada 2012 cuaca ekstrem dengan angina kencang membuatnya terpaksa mengakhiri pendakiannya. Pada saat inilah ia kehilangan Sembilan jarinya tersebut. Pada tahun 2015, gempa yang terjadi di Nepal mengakibatkan kerusakan parah di markas di pegunungan tersebut. Setidaknya ada 19 orang yang tewas dan 61 orang luka-luka.

Pada tahun 2016 dan 2017, ia juga digagalkan oleh cuaca buruk. Lalu yang terakhir pada tahun 2018 ia kehilangan nyawanya karena hypothermia.

Itulah fakta tentang pendakian yang dilakukan oleh Nobukazu Kuriki, Pendaki Jepang yang Tewas di Everest. Ia adalah pendaki yang gigih yang selalu berusaha menggapai cita-citanya hingga akhir hayatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *