Fakta yang Terjadi dalam Penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di NTB

Indonesia adalah Negara beragama. Ada lima agama yang diakui di Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dengan sifat masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi agama, tidak sedikit muncul sikap fanatisme dalam beragama, bahkan bisa mencapai tingkat yang ekstrem. Salah satunya seperti penyerangan penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB tepatnya di Dusun Tanak Eat, Desa Greneng, di Lombok Timur.

Fakta tentang Penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di NTB

Ahmadiyah yang dianggap sebagai ajaran sesat kerap menjadi sasaran amukan masyarakat. Sebenarnya apa yang terjadi di Dusun tersebut? Mari simak beberapa fakta tentang penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB.

  • 24 orang mengalami penyerangan

penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB

Peristiwa yang tidak diinginkan ini terjadi pada hari sabtu tanggal 19 Mei 2018. Dari penyerangan itu, setidaknya ada tujuh kepala keluarga yang semua anggotanya berjumlah 24 orang diserang dan diusir oleh massa. Selain diserang dan diusir, barang-barang hingga rumah milik jemaat Ahmadiyah tersebut juga dirusak.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia kemudian meminta agar adanya penindakan dari kepolisian atas kerusakan yang terjadi pada rumah dan barang-barang mereka. Mereka juga menuntut hak mendapatkan perlindungan untuk tinggal dan melakukan ibadah di sana.

  • Polisi tidak melakukan penindakan

penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB

Dengan alasan penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah adalah suatu kejadian spontan saat jam jadwal sholat mereka, Polri tidak melakukan penindakan. Tidak ada motif tertentu yang ditemukan oleh polisi sehingga penyelesaian masalah ini akan dilakukan dengan cara persuasif. Walaupun begitu, tidak tertutup kemungkinan adanya pemeriksaan berkas untuk ke depannya.

Kabar yang beredar menyebutkan kalau penyerangan ini dimulai oleh perkelahian antar anak. Namun, pihak Ahmadiyah menyangkal hal tersebut karena merasa tidak mungkin perkelahian kecil bisa berujung pada pengrusakan rumah.

  • Polisi saat ini mengamankan kedua belah pihak

penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB

Agar tidak terjadi pergesekan antara jemaat Ahmadiyah dan masyarakat Dusun Tanah Eat, saat ini polisi mengamankan para korban setelah mengetahui kelompok mana yang telah melakukan tindak kekerasan. Selain itu, polisi juga merangkul ormas dan pemuka aga yang ada di NTB untuk menjaga keamanan.

  • Polisi membantu penyembuhan trauma korban

penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB

Setelah penyerangan, para korban akan dibantu agar trauma yang mereka alami ketika penyerangan dapat perlahan hilang. Untuk itu, polisi yang telah mengamankan para korban akan membentuk tim konseling agar trauma yang dialami oleh korban khususnya anak-anak dan wanita dapat hilang.

Kepolisian menggerakkan tim yang terdiri dari polwan dan petugas dari Komisi Perlindungan Anak yang akan bekerja sama dalam menyembuhkan trauma korban.

  • Komnas HAM ingin pelaku ditindak

penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB

Komnas HAM berharap agar aparat mengambil tindakan tegas atas para pelaku penyerangan jemaat Ahmadiyah ini. Sang Komisioner, Ulung Hapsara, menyesalkan tindakan lunak para aparat dalam menyikapi tindakan intoleran ini. Ia juga menyebutkan kalau tindakan lunak tersebut tidak akan memberikan efek jera kepada pelaku intoleransi.

Itulah beberapa fakta yang terjadi seputar penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah di NTB. Semoga tindakan intoleransi tidak terjadi lagi di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *